PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ERA COVID 19 DITINJAU DARI ASPEK PESERTA DIDIK DI SMP NEGERI 1 LEMBANG JAYA

( SUATU ANALISIS FILOSOFIS )

Afrizal B, NIM 1902011001

Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Batu Sangkar

Afrizal220118@gmail.com

Abstrak

Wabah yang semakin berkembang dengan pesat telah meresakan dunia. Virus corono atau Covid 19 menjadi bencana yang menggangu kesehatan di dunia. Covid 19 saat ini telah menggangu berbagai aspek kehidupan manusia perekonomian dan kesehatan manusia di dunia merupakan dampak utama yang cukup jelas dengan covid 19. Penyebaraan covid-19 yang terbilang sangat cepat dan masif memudahkan manusia menjadi lebih cepat tertular. Covid 19 yang mewabah akhir-akhir ini bukanlah wabah penyakit biasa akan tetapi wabah penyakit yang sangat luar biasa. Virus yang awal mulanya berasal dari kota Wuhan di Negara china ini telah meresakan seluruh dunia, karena sudah tersebar di banyak Negara sebagaimana pernyataan organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) tanggal 12 Maret 2020 yang dikutip dari Kompas.com  World menetapkan bahwa “ virus corona jenis baru ini sebagai pandemi global “  yang mewabah hampir diseluruh penjuru dunia, yang telah berhasil memporak porandakan tatanan kehidupan manusia dari berbagai aspek, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya, dan tidak terkecuali aspek pendidikan, yang membuat manusia didunia ketakutan akan ketularan penyakit ini. tujuan penulisan artikel ini adalah melihat apa saja problematika pendidikan dengan mewabahnya covid 19 ditinjau dari aspek peserta didik yang terjadi di SMP Negeri 1 Lembang Jaya.

Kata-kata kunci: Problematika, covid 19, Peserta Didik

PENDAHULUAN

Covid 19 yang mewabah akhir-akhir ini bukanlah wabah penyakit biasa akan tetapi wabah penyakit yang sangat luar biasa. Sebagaimana pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO) tanggal 12 Maret 2020 yang dikutip dari Kompas.com World Health Organization (WHO) menetapkan bahwa “ virus corona jenis baru ini sebagai pandemi global “  yang mewabah hampir diseluruh penjuru dunia, yang telah berhasil memporak porandakan tatanan kehidupan manusia dari berbagai aspek, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya, dan tidak terkecuali aspek pendidikan, yang membuat manusia didunia ketakutan akan ketularan penyakit ini.

Bicara dibidang pendidikan, mewabahnya covid 19 ini telah banyak mendatangkan masalah atau problematika baru bagi dunia pendidikan mulai dari pendidikan tingkat dasar, menengah, atas bahkan sampai pendidikkan tinggi yang harus ditangani secara serius, hal ini tentu menuntut kepiawaian dan keseriusan oleh seluruh stakeholder dalam memecahkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kelancaran pendidikan disekolahnya masing-masing saat pandemi covid 19 ini. Berbagai masalah dan problematika didunia pendidikan juga dirasakan oleh SMP Negeri 1 Lembang Jaya Kabupaten solok. Sekolah sebagai sebagai sebuah sistem atau organisasi formal dibidang pendidikan tentu terdiri dari berbagai unsur atau komponen diantaranya, kepala sekolah, guru, tata usaha, dan peserta didik, kesuksesan sebuah lembaga pendidikan tentu tidak terlepas dari unsur-unsur  atau komponen tersebut.  

Identifikasi Masalah

Sebagaimana yang dijelaskan diatas bahwa covid 19 telah banyak menganggu aspek kehidupan manusia termasuk didalamnya dunia pendidikan ,  Hal ini membuat pemerintah Indonesia mengantisipasi dengan cara membuat suatu kebijakan untuk menutup segala akses aktivitas untuk menghindari jumlah yang penyebaran virus yang semakin lama bertambah setiap waktunya. Pemerintah membuat kebijakan lockdown akses pada setiap jalur, seperti dilarangnya berpergian, menutup tempat wisata, menutup sebagian pusat berbelanjaan dan lain sebagainya yang memicu masyarakat dari keramaian. Dengan adanya akses ini tak membuat pendidik dan peserta didik untuk tidak ada aktivitas belajar mengajar. Aktivitas belajar mengajar tetap dilaksanakan dalam dunia pendidikan walaupun akses lockdown di sekolah dan universitas diberlakukan untuk mencegah penyebaran luas virus corona. Kebijakan pada pendidikan bahwa aktivitas belajar mengajar disekolah dapat dilaksanakan menggunakan E-learning berbasis daring dirumah dalam kurun waktu 14 hari untuk tahap pertama yang  yang telah dikeluarkan dengan keputusan dari pemerintah pusat ataupun daerah untuk mengantisipasi penyebaran dilingkungan sekolah dan universitas.

Selama pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dimulai dikabupaten solok tanggal 20 Maret 2020 telah banyak mendatang problem problem pendidikan di SMP Negeri 1 Lembang Jaya diantaranya:

  1. Sulitnya melaksanakan kegiatan pembelajaran selama libur covid 19
  2. Sulitnya mengukur dan melaksanakan evaluasi peserta didik selama covid 19

Batasan Masalah

Untuk lebih terarahnya pembahasan artikel ini maka penulis memberikan batasan masalah hanya tentang “Problematika Pendidikan Era Covid 19 ditinjau Dari Aspek Peserta Didik Di SMP Negeri 1 Lembang Jaya “ dengan focus masalah yaitu:

  1. Kegiatan pembelajaran selama libur covid 19
  2. Pelaksanaan evaluasi pembelajaran peserta didik selama covid 19

Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang dan fokus masalah yang telah penulis uraikan diatas, maka penulis dapat merumuskan beberapa masalah dalam artikel ini yang dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah pelaksanaan kegiatan Pembelajaran di SMP Negeri 1 Lembang Jaya di Era Covid 19 ?
  2. Apakah masalah-masalah yang dihadapi tentang pembelajaran di SMP Negeri 1 Lembang Jaya selama covid 19 di Era Covid 19 ?
  3.  Apakah hambatan-hambatan pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SMP Negeri 1 Lembang Jaya di Era Covid 19 ?
  4. Bagaimanakah strategi penilaian dan evaluasi pemebelajara di SMP Negeri 1 Lembang Jaya di Era Covid 19 ?

KAJIAN TEORITIS

  1. Problematika Pendidikan

Istilah problematika seringkali kita dengar dalam kehidupan sehari terutama  dalam dunia pendidikan, problem merupakan masalah yang muncul ditengah tengah kehidupan dimana apa yang diharapakan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, atau dengan kata lain dapat diartikan bahwa kesenjangan antara harapan dengan kenyataan bila dikaitkan dengan pendidikan, maka problem pendidikan adalah segala sesuatu yang terjadi didunia pendidikan dimana harapan yang diinginkan dilembaga pendidikan tidak sesuai dengan tujuan yang diinginkan atau kenyataannya tidak sesuai  harapan. Umniati Nibras Imani dalam artikelnya (2015) mengartikan bahwa Problematika berasal dari akar kata bahasa Inggris yaitu “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidaktentuan.

Sedangkan berkaitan dengan defenisi pendidikan banyak definisi yang dikemukan oleh para ahli pendidikan diantaraya secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu dibantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya.

Sedangkan Irianto (2011)  dalam titi kadi dan Robiatul Awaliyyah (2015:145) menyebutkan bahwa Pendidikan merupakan wahana penting dan media yang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai, dan menanamkan etos kerja dikalangan warga masyarkat. Pendidikan dapat juga menjadi bagian dari instrument untuk membangun dan memupuk kepribadian bangsa, memperkuat identitas nasional, dan memantapkan jati diri bangsa. Pendidikan dapat menjadi wahana strategis untuk membangun kesadaran kolektif sebagai warga dengan mengukuhkan ikatan-ikatan social, tetap menghargai keragaman budaya, ras, suku-bangsa, agama, sehingga dapat memantapkan keutuhan nasional.

Mulkhan (1993) dalam Titi Kadi dan Robiatul Awaliyyah (2015:145) menyebutkan Pendidikan sebagai pengembangan paradigma intelektual. Dalam paradigma ini, peserta didik diharapkan akan memiliki kesiapan mental dan kemampuan teoritik dalam menjalani kehidupannya yang selalu berubah dalam kompleksitas modern. Ari berbagai pendapat tentang pendidikan diatas maka dapat di simpulkan bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

Merujuk kepada beberapa defenisi tentang kata problematika dan pendidikan yang telah dijelaskan diatas maka dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang terjadi didunia pendidikan dimana tujuan yang diinginkan oleh   pendidikan tidak terwujud sesuai dengan harapan, atau terjadinya beberapa kesenjangan didunia pendidikan, hal ini diperkuat oleh pernyataan Nibras Imani dalam artikelnya Problematikan Pendidikan (2015) yang mengatakan bahwa “problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia”

2. Pengertian Peserta Didik

Peserta didik atau yang akrab disebut dengan murid atau siswa disekolah atau dilembaga lembaga pendidikan formal, penggunaan kata peserta didik, siswa, atau murid itu biasanya dipakai untuk tingkat pendidikan dasar, menegah pertama, dan menengah atas. Sedangkan untuk pendidikan tinggi dengan menggunakan istilah mahasiswa.

Berkaiatan dengan defenisi peserta didik, banyak sekali pendapat ahli pendidikan mengemukakan diantaranya peserta didik diartikan sebagai sekelompok orang yang melakukan pendidikan di sebuah lembaga pendidikan atau disekolah atau dalam defenisi lain Siswa atau peserta didik adalah komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Sedangkan bila kita melihat defenisi peserta didik  Menurut undang undang Nomor 20 Tahun 2003 Peserta didik diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu

Dari semua defenisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat atau sekelompok orang yang berusaha mengembangkan potensi dirinya, baik minat maupun bakat yang dipunyai melalui beberapa proses pendidikan atau pembelajaran dengan jangka waktu tertentu.

3. Pengertian evaluasi pendidikan

Menurut Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.

Edwin dan Brown (1957) dalam  Winarno (2004:11)  mengemukakan evaluasi adalah suatu proses menentukan nilai atau harga dari sesuatu.  Sementara itu Johnson dan Nelson (1974) ) dalam  Winarno (2004:12)  menekankan bahwa evaluasi lebih penting dari pengukuran, evaluasi berguna sebagai dasar untuk menilai berdasarkan data yang dikumpulkan melalui proses pengukuran. Dalam pendapat lain Mathwes (1978) dalam  Winarno (2004:12) mendefenisikan bahwa evaluasi mencakup pengambilan keputusan, penaksiran, penilaian, dan implementasi terhadap proses pendidikan secara keseluruhan.

Ratna Sayekti (1988) menyatakan evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis untuk menentukan seberapa jauh tujuan instruksional telah dicapai siswa. Berdasarkan pendapat di depan, dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan suatu proses yang sitematis untuk menentukan nilai berdasarkan data yang dikumpulkan melalui pengukuran. Proses pemberian nilai harus dilakukan secara obyektif, dan diusahakan unsur-unsur subjektif tidak masuk sebagai pertimbangan dalam penilaian. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa evaluasi meliputi kedua langkah di depan, yaitu mengukur dan menilai. (Winarno 2004:12)

Dari pendapat para ahli pendidikan diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi pendidikan adalah suatu kegiatan penilaian yang dilakukan secara sistematis dalam rangka menetukan sejauhmana tujuan instruksional telah dicapai oleh siswa selama dalam kegiatan pembelajaran.

4. Pelaksanaan Pembelajaran di Era Covid 19

Merujuk kepada Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Dimasa covid 19 dan dengan diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maka menjadi kendala dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka dalam rangka menghindari dan memutus rantai penyebaran Covid 19. Salah satu solusi pembelajaran dimasa covid 19 sesuai edaran menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan melaksanakan pembelajaran atau pendidikan jarak jauh. Menurut undang-undang nomor 20 tahun 2003 Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

Pembelajaran jarak jauh yang dikenal dengan pembelajaran daring atau pembelajaran online dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat pembelajaran, seperti dengan penggunaan alat komunikasi berupa handphone android, media TV, dan media media lainnya dalam menunjang kesuksesan pembelajaran.

PEMBAHASAN

  1. Problematika Pembelajaran Daring di SMP Negeri 1 Lembang Jaya

Sebagaimana yang telah diuraikan diatas bahwasanya dengan mewabahnya covid 19 di indonesia telah banyak mempengaruhi tatanan kehidupan manusia termasuk masalah pendidikan. Salah satu solusi pembelajaran selama covid 19 sesuai dengan edaran menteri pendidikan dan kebudayaan, untuk memutus mata rantai penyebaran covid 19 maka pembelajaran diberlakukan dengan pembelajaran jarak jauh atau yang dikenal dengan pembelajaran online.

Media daring dirasa sangat efektif sebagai langkah solutif untuk mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan pendidikan. Guru tinggal memberikan soal  yang nantinya dikirim  melalui ponsel/laptop peserta didik atau orang tua. Kemudian peserta didik tinggal megerjakan tugas dari guru. Hasil pekerjaan atau tugas tersebut dikirim kembali kepada guru melalui WA, aplikasi, atau dikumpulkan pada saat masuk sekolah.

Pandemi Covid-19 kiranya bisa menjadi pintu masuk  untuk mengubah pembelajaran tekstual menjadi kontekstual. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang mengaitkan antara materi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik diharapkan dapat menemukan dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Dengan demikian, mereka akan lebih memahami dan lebih memaknai pengetahuannya.

Namun demikian di SMP Negeri 1 Lembang Jaya Kabupaten Solok dengan berlakunya pembelajaran daring atau online, banyak persoalan atau problematikan yang mesti dihadapi , baik masalah yang bersumber dari siswa, guru, maupun sarana dan prasarana yang ada disekolah. Berdasarkan pengamatan penulis pembelajaran daring selama covid 19 di SMP Negeri 1 Lembang Jaya  banyak menemui kendala kendala terutama dari segi peserta didik.

Dari hasil pemantauan guru dan kepala sekolah terhadap siswa yang tidak mengikuti pembelajaran daring beralasan bahwa rata-rata siswa menjawab karena tidak memiliki HP Android dan paket data internet, hal ini menjadi suatu kendala yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembelajaran selama covid 19 di SMP Negeri 1 Lembang Jaya Kabupaten Solok

Tabel. 1. Kondisi Pembelajaran di SMP Negeri 1 Lembang Jaya

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa di SMP Negeri 1 Lembang Jaya pembelajaran daring atau online selama covid 19 tidak berjalan dengan baik. Pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa siswa kelas VII berjumlah 112 orang yang bisa mengikuti pembelajaran daring dengan baik hanya sebanyak 30 orang siswa, siswa kelas VIII berjumlah sebanya 122 orang, yang bisa mengikuti pembelajaran daring hanya 73 orang, sedangkan untuk siswa kelas IX berjumlah 105 orang, sedangkan yang bisa aktif untuk pembelajaran daring hanya sebanyak 90 orang.

Berdasarkan evaluasi yang dilaksanakan terhadap pembelajaran daring di SMP Negeri 1 Lembang Jaya maka didapatkan keterangan bahwa untuk siswa kelas VII dari 112 orang siswa, yang bisa mengikuti pembelajaran daring hanya 30 orang ini disebabkan karena banyaknya siswa yang tidak mempunyai HP android, kelas  VIII dari 122 orang yang mepunyai hp android hanya sebanyak 73 orang, sedangkan kelas IX yang memiliki HP Android hanya sebanyak 90 orang. Rata-rata siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran daring yang diwawancarai memberikan jawaban dengan alasan tidak mempunyai HP android, dan ada juga yang beralasan karena tidak mempunyai paket internet.

Masalah masalah lain yang sangat besar juga mempengaruhi keaktifan siswa dalam pembelajaran daring  disamping tidak memiliki HP Android adalah:

  1. Kondisi geografis atau daerah tempat tinggal
  2. Kondisi ekonomi masyarakat yang kurang mampu
  3. Keterbatasan jaringan internet

Dari segi georafis dapat dijelaskan bahwa SMP Negeri 1 Lembang Jaya terletak didaerah perbukitan dan jauh dari pusat perkotaan, ditambah lagi dengan kondisi daerahnya banyak perbukitan, sementara fasilitas internet sangat kurang, jaringan internet sangat sulit, hal ini menyebabkan kesulitan siswa dalam melakukan pembelajaran daring, sementara pembelajaran daring harus mengandalkan jaringan internet yang lancar.

Dari segi ekonomi, dapat dijelaskan bahwa sebagian besar siswa SMP Negeri 1 Lembang Jaya berada pada perekonomian kurang mampu, atau lebih didominasi oleh masyarakat dengan taraf ekonomi menengah kebawah, rata-rata pekerjaan atau profesi orangtua siswa adalah dengan cara bertani, sementara pada masa covid 19, harga pertanian banyak yang anjlok, ditambah lagi degan kwalitas panen yang tidak memadai sehigga kebanyakan orangtua siswa mengeluh untuk biaya pembelian paket internet bagi anak anaknya , hal ini menjadi salah satu alasan mengapa kurang berjalannya pembelajaran daring di SMP Negeri 1 Lembang Jaya.

Dari segi ketersedian jaringan internet, sebagaimana yang dijelaskan diatas bahwasanya SMP Negeri 1 Lembang Jaya berada pada daerah perbukitan, dengan kondisi sarana internet yang sangat minim, karena daerahnya yang dikelilingi perbukitan menyebabkan jaringan internet kurang lancar dan sulit untuk diakses oleh peserta didik.

2. Problematika Penilaian  Era Covid 19 di SMP Negeri 1 Lembang Jaya

Karena banyaknya siswa yang kurang aktif didalam pembelajaran daring  dengan berbagai macam alasan maka berimplikasi terhadap kegiatan penilaian belajar siswa karena untuk melaksanakan evaluasi pembelajaran baik berupa penilaian harian (PH), Penilaian Akhir Semester (PAS) diharuskan pemerataan terhadap materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru.

Untuk melaksanakan kegiatan evaluasi guru banyak menemui kendala hal ini disebabkan karena materi materi yang disampaikan kepada siswa tidak diterima oleh siswa secara merata, sedangkan penilaian harus dilaksanakan secara adil dengan tidak membeda bedakan siswa, kendala ini menjadi problem yang sangat besar dikalangan guru guru mata pelajaran dalam rangka menuntaskan nilai siswa.

Dalam kondisi seperti ini maka harus ditemukan berbagai macam strategi penilaian terhadap siswa SMP Negeri 1 Lembang Jaya dalam rangka penuntasan hasil belajar siswa diantara hal hal yang menjadi solusinya adalah :

  1. Nilai dari kegiatan PBM selama covid 19 tidak dijadikan sebagai patokan atau acuan dalam menuntaskan nilai siswa, hal ini disebabkan karena selama pembelajaran daring banyak siswa yang tidak bisa aktif dalam mengerjakan tugas dan mengikuti pembelajaran.
  2. Menjadikan nilai sebelum covid 19 sebagai acuan utama dalam penilaian siswa, baik penilaian pengetahuan ( kognitif). Penilaian Keterampilan ( Psikomotori ), maupun penilaian sikap (Apekti), hal ini dapat disimpulkan karena covid 19 dimulai tanggal 20 Maret 2020, artinyan dari bulan januari sampai maret 2020 sudah ada penilaian siswa yang diambil oleh masing masing guru mata pelajaran.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Pandeni Covid 19 telah banyak mempengaruhi tatanan kehidupan manusia dari kehidupan normal menjadi kehidupan yang abnormal, tidak hanya dari segi ekonomi, budaya, bahkan merambah kedunia pendidikan.
  2. Dengan covid 19 banyak kebijakan pendidikan yang telah diaplikasikan diantaranya melaksanakan pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh tidak hanya berlaku di perkotaan tetapi juga berlaku dipedesaan
  3. Diantara problematika pembelajaran daring di SMP Negeri 1 Lembang Jaya adalah, banyaknya siswa yang tidak memiliki HP Android, Jaringan Internet yang kurang memadai, ekonomi masyarak yang kurang mampu sehinggu sulit bagi masyarakat memenuhi kebutuhan anaknya untuk pembelian paket internet.

Daftar Pustaka

Afifah, 2015, Problematika Pendidikan Di Indonesia (Telaah Dari Aspek Pembelajaran) NURUL Jurnal Elementary Vol. I Edisi 1

Ariel Sharon Sumenge, 2013,  Analisis Efektifitas Dan Efisiensi Pelaksanaan Anggaran Belanja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Minahasa Selatan Jurnal EMBA Vol.1 No.3

Titi Kadi, 2017,  Inovasi Pendidikan : Upaya Penyelesaian Problematika Pendidikan Di Indonesia,  JURNAL ISLAM NUSANTARA. Vol 1. No. 2

Heri Kurniawansyah HS, Amrullah, M. Salahuddin, Muslim, Sri Nurhidayati, 2020, Kebijakan Strategis Dalam Menangani Eksternalitas Ekonomi Dari Covid – 19 Pada Masyarakat Rentan Di Indonesia Indonesian Journal of Social Sciences and Humanities, Vol. 1 No. 2

M.Rizki Nasution, 2020, Covid-19 Tidak Menjadi Hambatan Pendidikan Di Indonesia

Roma Doni Azmi, Rizqon Halal Syah Aji, 2020, Kebangkitan Nasional; Pemuda Melawan Pandemi Global,  Buletin Hukum dan Keadilan, Vol. 4, No. 1

Winarno, 2004, Evaluasi Dalam Pendidikan Jasmani Dan Olahraga, Jakarta, Center For Human Capacity Development

Yulita Pujilestari, 2020, Dampak Positif Pembelajaran Online Dalam Sistem Pendidikan Indonesia Pasca Pandemi Covid-19 , Buletin Hukum dan Keadilan, Vol. 4, No. 1

Review Makalah Ilmiah

Review Makalah

 “TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN”

Review Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Pengambilan Keputusan

OLEH

AFRIZAL B

NIM. 1902011001

DOSEN PEMBIMBING

DR. ASMENDRI, M.Pd

JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM PASCASARJANA IAIN BATUSANGKAR

2020

Review Makalah:

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Penulis

Diva Putri, Desi Handini, Rika Wahyuni (1)

Reviewer

Afrizal B (2)

Teori Pengambilan Keputusan 

Tahun 2020

 

 

Setelah penulis membaca serta memahami makalah yang ditulis oleh Diva Putri, dkk. Ada beberapa hal atau tanggapan yang dapat penulis berikan terhadap makalah ini, tanggapan tersebut bukan berarti untuk mencari sebuah kelemahan atau kesalahan akan tetapi lebih kepada penyempurnaan makalah ini mulai dari struktur penulisan, isi makalah, serta bentuk presentasi yang dilakukan oleh penulis makalah sebagai presenter. Dari struktur tampilan makalah yang ditulis oleh Diva Putri. dkk ini, sebagai makalah ilmiah jika dilihat dari struktur dan unsur-unsur penulisannya, maka makalah sudah memenuhi kaedah dan syarat penulisan sebuah makalah ilmiah yang dimulai dengan pendahuluan, pembahasan, serta penutup. Akan tetapi ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh penulis ketika menulis sebuah istilah dalam bahasa asing, seperti contoh istilah yang dipakai Decision Making, pada makalah yang ditulis oleh penulis Desicion Making hal ini dikhawatirkan akan mendatangkan tafsiran baru disebabkan karena kesalahan penulisa, hal hal yang seperti ini perlu untuk diperhatikan karena mengingat bahwa makalah ini akan dijadikan juga sebagai bahan rujukan bagi pembaca. disamping itu pada makalah ditemukan juga beberapa penulisan yang terpotong-potong dan kata yang berulang sehingga dapat merubah makna dan menimbulkan penafsiran yang berbeda.

Pada bagian Pendahuluan Diva Putri, dkk sudah menampilkan latar belakang dari pembahasan makalah yang akan ditulis, sebagaimana diketahui latar belakang merupakan gambaran yang mengantarkan kepada pembahasan yang sesungguhnya dari makalah, oleh sebab itu latar belakang perlu lebih jelas dan spesifik yang menuju kepada focus pembahasan, latar belakang yang ditampilkan sudah baik akan tetapi masih perlu disempurnakan lagi agar makalah ini lebih baik lagi kedepannya. Menurut pendapat Harry Firman, Dosen Jurusan Pendidikan Kimia UPI, dikutip dari Academic Writing Workshop yang mengatakan bahwa “ Makalah tidak terlalu panjang, biasanya makalah seminar terdiri atas 8-15 halaman berukuran A4 dengan spasi satu setengah centimeter. Struktur makalah sangat longgar, namun umumnya terdiri atas tiga empat bagian, yakni pendahuluan, pembahasan, dan kesimpulan. (firman: 2014)

  1. Pendahuluan

Pendahuluan berisi latar belakang (pengantar kepada permasalahan), perumusan masalah atau fokus kajian, tujuan dan manfaat kajian, serta garis besar susunan makalah.

2. Pembahasan

Pembahasan dapat terdiri atas beberapa bagian, bergantung pada sisematika yang ditetapkan penulis, yang pada dasarnya memaparkan pikiran (gagasan) penulis yang diawali dengan data penunjang dan argumen terhadap pikiran tersebut.

3. Kesimpulan

Kesimpulan bukanlah rangkuman, melainkan ungkapan-ungkapan kunci tentang temuan, pikiran, gagasan, atau pendapat penulis, yang dikembangkan pada bagian-bagian makalah sebelumnya.

4. Daftar Pustaka

Makalah dilengkapi dengan daftar pustaka, yaitu identitas sumber (buku, artikel jurnal, dokumen web, dll.) yang memuat data, temuan, pikiran, gagasan orang lain yang dirujuk dalam penulisan makalah. (firman: 2014) 

Berdasarkan pendapat tersebut diatas jelas bahwa makalah yang ditampilkan oleh Diva Putri. Dkk telah memenuhi syarat dalam penulisan makalah ilmiah. Jika kita melihat makalah yang ditampilkan tidak terlalu panjang hanya berkisar 14 halaman yang ditulis dalam ukuran kertas A4 dengan spasi 1,5 cm. Hanya barangkali yang perlu disempurnakan adalah latar belakang perlu dipertajam karena latar belakang merupakan gambaran atau pengantar kepada pembahasan makalah.

Pada pembahasan makalah penulis (Diva Putri, dkk) mengemukakan defenisi tentang Pengambilan keputusan (desicion making) yang mengatakan “ bahwa pengambilan keputusan atau (desicion making) adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan”. Keputusan diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif. Hal ini senada dengan defenisi Decision Making yang dikemukakan oleh G.R Terry yang mengatakan bahwa “ Pengambilan keputusan sebagai pemilihan yang didasarkan pada kriteria tertentu atas lebih alternative yang mungkin “ Merujuk kepada pendapat yang dikemukakan G.R Terry diatas maka penulis telah menyimpulkan defenisi yang sangat tepat tentang pengambilan keputusan, namun penulis perlu juga  menjelaskan bahwa pengambilan keputusan merupakan sebuah pendekatan sistematis terhadap sebuah masalah. Sebagaimana pendapat P.Siagian yang mengatakan bahwa “ Pengambilan Keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta, dan data penelitian yang matang atas alternative dan tindakan.

Kesimpulan dari beberapa pendapat diatas adalah sebelum pilihan dijatuhkan atau sebelum keputusan diambil, ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah, identifikasi masalah utama, menyusun masalah utama, menyusun alternatif yang akan dipilih sampai pada pengambilan Keputusan.

Selanjutnya penulis juga membahahas empat macam teori tentang pengambilan keputusan diantaranya.

  1. Teori Utilitarisme
  2. Teori Deontology
  3. Teori Hedonisme
  4. Teori Eudemonisme

Dilihat dari segi isi makalah, paparan yang disampaikan oleh pemakalah sudah sangat lengkap  yang didukung oleh berbagai macam pendapat para ahli diantaranya.

  1. Teori Utilitarisme

Aliran utilitarian dicetuskan oleh filosof Inggris, yakni Jeremy Bentham (1748- 1832) dan John Stuart Mill (1806-1873). Kata “utility” bermakna “berguna” atau “kegunaan”. Utilitarisme berasal dari kata Latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini, suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, berfaedah atau berguna, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang saja melainkan melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Teori utilitarianisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa tindakan dan kebijakan perlu dievaluasi berdasarkan manfaat dan biaya yang dibebankan pada masyarakat. Dalam situasi apa pun, tindakan atau kebijakan yang “benar” adalah yang memberikan manfaat paling besar atau biaya paling kecil (bila semua alternatif hanya membebankan biaya bersih). Sebuah prinsip moral yang mengklaim bahwa sesuatu dianggap benar apabila mampu menekan biaya sosial (social cost) dan memberikan manfaat sosial (social benefit).

2. Teori Deontolology

Dalam pemahaman teori Deontologi memang terkesan berbeda dengan Utilitarisme. Etika deontologis adalah teori filsafat moral yang mengajarkan bahwa sebuah tindakan itu benar kalau tindakan tersebut selaras dengan prinsip kewajiban yang relevan untuknya. Deontology berasal dari bahsa Yunani “deon” berarti ‘kewajiban yang mengikat’ dan logos berarti “pengetahuan”. Istilah “deontology” dipakai pertama kali oleh C.D. Broad dalam bukunya Five Types of Ethical Theory. Etika deontologis juga sering disebut sebagai etika yang tidak menganggap akibat tindakan sebagai faktor yang relevan untuk diperhatikan dalam menilai moralitas suatu tindakan.

3. Teory Hedonisme

Hedonisme adalah sebuah paham yang mengedepankan kesenangan duniawi, kenikmatan duniawi,materi dan hal-hal yang berbau duniawi serta menganggap bahwa hal-hal tersebut merupakan tujuan akhir yang harus dicapai dengan cara apapun, dimana kata “ duniawi” merujuk pada aspek jasmani, filosofis, dan intelektual.

4. Teori Eudemonisme

Eudemonisme merupakan salah satu filsafat moral selain hedonisme dan yang lainnya. Eudemonisme berasal dari kata “ Eudaimonia” yang berarti kebahagiaan. Pandangan ini berasal dari filsuf Yunani besar, Aristoteles (384-322 s.M). Dalam bukunya , Ethika Nikomakheia, ia mulai dengan menegaskan bahwa dalam setiap kegiatannya manusia mengejar suatu tujuan. Bisa dikatakan juga, dalam setiap perbuatan kita ingin mencapai sesuatu yang baik bagi kita. Seringkali kita mencari suatu tujuan untuk mencapai suatu tujuan lain lagi. Jadi Eudemonisme adalah salah satu filsafat moral yang menganut tentang kebahagiaan.

Setiap karya pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, begitu pula dengan makalah yang ditulis oleh Diva Putri. dkk. Namun kelebihan dalam makalah Diva Putri. Dkk ini lebih menonjol dibanding dengan kekurangannya. Diva Putri. dkk dalam menguraikan pembahasan dalam makalah ini secara runtut dan jelas. Permasalahan dikaji secara mendalam dan mencakup berbagai persoalan teori-teori tentang pengambilan keputusan. Tulisan Diva Putri. Dkk,  sangat membantu pembaca dalam memahami teori-teori tentang pengambilan keputusan. Makalah tersebut secara jelas dan singkat menguraikan bagaimana teori-teori serta prinsip-prinsip yang harus dilakukan dalam mengambil sebuah keputusan

DAFTAR RUJUKAN

Harry Firman, (2014). Menulis Karya Ilmiah, Academic Writing Workshop

Metz, P. A. (1994). Introduction to the Symposium on what is research in chemistry education. Journal of Chemical Education, 71(3), 180-181.

Universitas Pendidikan Indonesia (2013). Pedoman penulisan karya ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Abduh, Hasbi. Pengambilan Keputusan di Lembaga Pendidikan. STAI Pasir pangaraian

Al Hakim, S. (2016). Pola Pengambilan Keputusan Moral Kelompok Mahasiswa LPTK Dalam Lingkup Moralitas sosiokultural Pada Era Globalisasi. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 25(1).

Bertens, K. (1993). Etika K. Bertens (Vol. 21). Gramedia Pustaka Utama.


  1. Penulis adalah Mahasiswa Program Study Manajemen Pendidikan Islam Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri Batu Sangkar
  2. Reviewer adalah Mahasiswa Program Study Manajemen Pendidikan Islam Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri Batu Sangkar

Manajemen Pengelolaan Kasus Dalam Menanamkan Karakter Terhadap Peserta Didik di Sekolah Umum

Afrizal B

Guru SMP Negeri 1 Lembang Jaya Afrizal220118@gmail.com

Abstract

Dunia pendidikan terutama disekolah sering sekali diwarnai oleh kasus kasus yang berhubungan dengan siswa atau peserta didik, mulai dari kasus yang bersifat ringan, menengah, maupun kasus kasus yang bersifat berat, bahkan sampai pada kasus kasus kriminal yang dilakukan oleh seorang siswa terhadap gurunya. Manajemen pendidikan terutama disekolah menginginkan pengelolaan kasus yang berhubungan dengan siswa yang terjadi disekolah harus ditangani secara profesional dan berkesinambungan oleh pihak pihak yang berkepentingan terutama oleh kepala sekolah sebagai unsur pimpinan, penanganan kasus secara profesional dan tuntas akan berimplikasi kepada penanaman karakter terhadap peserta didik atau siswa yang berada dilingkungan sekolah tersebut, yang pada gilirannya akan menciptakan suasana kondusif dalam pembelajaran. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan gambaran penaganan kasus yang baik yang terjadi disekolah umum berangkat dari pengalaman dan referensi yang penulis kemukakan dengan menggunakan metode penelitian perpustakaan.

Kata-kata kunci: Kasus, Manajemen, Sekolah Umum

PENDAHULUAN

Salahsatu tujuan pendidikan adalah membentuk manusia seutuhnya, beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berwatak dan berakhlak mulia hal ini jelas tercantum dalam undang undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 pada Bab 2 pasal 3 yang berbunyi “Pendidikan nasional

berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab “ hal ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang dikembangkan salah satu satunya adalah untuk membentuk manusia yang berkarakter sebagaimana yang dikuatkan dengan undang-undang tentang pendidikan karakter yang didengungkan pada saat ini.

Ahmad khoiri (2016) dalam artikelnya mengatakan bahwa “Pendidikan yang bermutu adalah Pendidikan yang mampu mengembangkan kemampuan, membentuk Karakter dan Peradaban Bangsa. Oleh karena itu harus dikembangkan dalam pendidikan di sekolah aspek: keimanan, ketaqwaan, akhlak mulia, kesehatan, ilmu, kecakapan, kreativitas, kemandirian, demokrasi dan tanggung jawab pada anak didik dan seluruh stakeholders Pendidikan”

Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan karakter mulai ramai dibicarakan kembali terutama pada dua dekade belakangan ini yang ditandai dengan pencanangan kurikulum 2013 sebagai kurikulum pendidikan di Indonesia. Hal ini terjadi seiring timbulnya kesadaran para pelaku dunia pendidikan tentang perlunya pendidikan karakter untuk mencapai cita-cita pendidikan.

Program pendidikan yang bertumpu pada pembentukan karakter ini berangkat dari keprihatinan atas kondisi moral yang cenderung merosot belakangan ini, ditandai dengan banyaknya kenakalan remaja, kejahatan kriminal, sampai kekejaman terorisme. Pembentukan karakter ini didasarkan pada kebutuhan untuk menggunakan pengetahuan sebagai sarana agar saling mengayomi bukan untuk menghantam sehingga dapat membangun lingkungan yang harmonis.

Merujuk kepada undang undang sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 diatas maka salah satu pembentukan karakter dan watak peserta didik disekolah, sekolah harus melakukan berbagai macam usaha, diantaranya melaksanakan pembelajaran reguler dikelas sampai kepada pembelajaran dalam bentuk kegiatan  ekstra kurikuler, tidak terkecuali melaksanakan pembinaan dan pengelolaan terhadap kasus kasus yang terjadi dikalangan siswa yang akhir akhir ini mulai meningkat. Semua usaha yang dilakukan oleh sekolah tersebut haruslah diframing dalam bentuk manajemen sekolah, diharapkan dengan manajemen pengelolaan kasus yang baik akan berimplikasi terhadapa perubahan sikap atau perubahan karakter peserta didik. Untuk itu, proses pembelajaran tidak hanya menekankan pada hafalan dan latihan penguasaan soal-soal ujian. Proses pembelajaran yang demikian telah banyak menelan korban, di mana para lulusan hanya membawa selembar ijazah. Dibalik ijazah yang dimilikinya tidak tercermin adanya efek pada perubahan watak/ kepribadian, pemikiran, dan perilakunya (Ahmad Khoiri : 2016)

Sebagaimana yang kita saksikan dalam perkembangan pendidikan sekarang adalah berkembangnya kasus kasus yang terjadi disekolah yang membutuhkan penanganan khusus dan terencana secara baik dan teratur. Hal inilah yang ingin penulis paparkan dalam artikel ini bagaimana manajemen pengelolaan kasus siswa yang baik dan terencana. Pegelolaan kasus disekolah adalah sudah menjadi sebuah tanggung jawab oleh para pendidik terutama guru dalam mengaplikasikan tugas guru sebagai pembimbing dan pembina terhadap muridnya. Selama ini bila dilihat penanganan kasus disekolah sudah mulai beranjak kearah yang lebih baik, apalagi kebanyakan sekolah sudah menyediakan konselor atau guru bimbingan konseling, namun tanggung jawab itu tidak hanya bertumpu pada guru bimbingan konseling akan tetapi perlu dibantu secara bersama-sama oleh guru- guru yang lain.

PEMBAHASAN

A. Manajemen Kasus Pendidikan

  1. Pengertian Manajemen Kasus

Kata manajemen secara bahasa berasal dari kata manage (to manage) yang berarti “to conduct or to carry on, to direct” (Webster Super New School and Office Dictionary), dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola” (John M. Echols, Hasan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia) dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan Manage sebagai “to succed in doing something especially something difficult….. Management the act of running and controlling business or similar organization” sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Manajemen diartikan sebagai “Prose penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran” (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Sedangkan Asifudin (2016) dalam artikelnya menuliskan bahwa Manajemen berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata manus yang berarti tangan, dan agere artinya melakukan; digabung menjadi kata kerja managere, berarti menangani; diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, to manage, kata bendanya managemet (mengatur atau mengelola); manajemen kini diartikan pengelolaan.

Dari beberapa pendapat diatas maka kata manajemen secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah pengaturan atau pengelolaan sesuatu secara terencana, terorganisir, dan terkontrol dengan menggunakan sumber daya yang ada secara optimal, efektif dan efisien untuk mencapai sebuah tujuan. Dilihat dari pengertian tersebut manajement salah satu intinya adalah melakukan sebuah pengelolaan dengan menggunakan sumber daya yang ada.

Sedangkan kasus bila kita lihat dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) berati” keadaan yang sebenarnya dari suatu urusan atau perkara; keadaan atau kondisi khusus yang berhubungan dengan seseorang atau suatu hal; soal; perkara “ berangkat dari pengertian tersebut maka kasus dapat kita artikan sebagai sebuah kejadian yang terjadi dengan sebenarnya, bila kita kaitkan dengan pendidikan, maka kasus pendidikan adalah segala sesuatu kejadian atau perkara perkara yang terjadi dalam bidang pendidikan.

Dari pengertian manajemen dan kasus diatas maka sebagai kesimpulan dapat diartikan bahwa Manajemen kasus adalah suatu cara yang terencana, terkoordinasi, dan teruji untuk memaksimalkan suatu efisiensi dan produktivitas dalam melaporkan serta menginvestigasikan bermacam-macam kasus. Manajemen kasus menekankan pengalokasian sumber daya untuk kasus dengan probabilitas solusi tertinggi.

B. Bentuk bentuk kasus pendidikan disekolah

  1. Kasus ringan

Yang tergolong kepada kasus kasus ringan disekolah diantaranya membolos, malas belajar dan membuat tugas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, muda mudi atau pacaran, mencuri kelas ringan. Rata rata kasus ringan yang terjadi disekolah banyak mengarah kepada pelanggaran disiplin, atau pelanggaran tata tertib sekolah, oleh sebab itu sudah seharusnya sekolah punya trik tersendiri dalam menerapkankan kedisiplinan. Bentuk pelanggaran menurut Sarwono (2008) adalah : agresi fisik (pemukulan, perkelahian), b) kesibukan berteman (berbincang bincang), c) mencari perhatian, d) menantang wibawa guru (memberontak) dan mencari perselisihan, e) merokok di sekolah, datang terlambat, dan menipu.

Kedisiplinan siswa sangat penting untuk kemajuan sekolah itu sendiri. Sekolah yang tertib akan menciptakan proses pembelajaran yang baik dan kondusif. Namun sebaliknya, di sekolah yang kurang tertib kondisinya akan jauh berbeda dan proses pembelajaran menjadi kurang efektif. Meningkatkan kedisiplinan terhadap siswa sangat penting dilakukan oleh sekolah, mengingat sekolah merupakan tempat mendidik dan membentuk karakter generasi penerus bangsa. Salah satu faktor yang membantu siswa dalam meraih kesuksesan dimasa depannya yaitu dengan membiasakan hidup disiplin sejak dini.  Para  siswa dalam melakukan kegiatan belajar disekolah tidak terlepas dari berbagai peraturan dan tata tertib yang telah diberlakukan disekolahnya, dan setiap siswa harus berprilaku sesuai dengan tata tertib yang telah ada disekolahnya.

Berbicara masalah kasus disekolah, maka rata-rata kasus siswa yang sering terjadi disekolah adalah kasus pelanggaran pelanggaran ringan, dari sekian banyak kasus yang dilakukan siswa, pelanggaran kasus ringan menempati angka tertinggi yang dilakukan oleh siswa. contoh kedatangan kesekolah, kedisiplinan berpakaian, kedisiplinan dalam mengumpulkan tugas, bersikap yang kurang sopan, dan sebagainya. Semua kasus tersebut rata-rata terjadi karena kurangnya kedisiplinan, Disiplin diri merupakan aspek utama membentuk siswa pada dunia pendidikan dalam upaya mengembangkan pemahaman diri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi  dan hasil belajar, mewujudkan peserta didik berprilaku baik dan berprestasi. dan mentaati tata tertib sekolah, dalam upaya kegiatan pembelajaran siswa di sekolah berjalan dengan efisien dan efektif, bertanggung jawab dalam meletakkan dasar-dasar tata tertib (Rachmawati:2011).

Pelanggaran terhadap tata tertib memang banyak dijumpai di sekolah sekolah yang umumnya dilakukan oleh para siswa. Pelanggaran adalah tindakan menyalahi aturan yang dilakukan oleh seseorang dengan sengaja. Sedangkan menurut Tarmidzi (2008) pelanggaran adalah “Tidak terlaksananya peraturan atau tata tertib secara konsisten akan menjadi salah satu penyebab utama terjadinya berbagai bentuk dan kenakalan yang dilakukan siswa, baik di dalam maupun di luar sekolah”. Dari pernyataan Tarmidzi tersebut dapat diketahui bahwa terdapat berbagai macam bentuk pelanggaran di sekolah, misalnya membolos, berkelahi, terlambat datang ke sekolah, tidak mengenakan segaram sesuai aturan, dsb. Dengan adanya kedisiplinan di sekolah diharapkan mampu menciptakan suasana lingkungan belajar yang nyaman dan tentram di dalam kelas. Siswa yang disiplin yaitu siswa yang biasanya hadir tepat waktu, taat terhadap semua perturan yang diterapkan disekolah, serta berprilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku disekolah tersebut.

2. Kasus Sedang

Masalah atau kasus sedang yang sering terjadi disekolah seperti: gangguan emosional, berpacaran dengan perbuatan menyimpang atau menyeleweng, berkelahi antar sekolah atau yang populer dengan sebutan tauran, kesulitan belajar karena gangguan di keluarga, minum minuman keras tahap pertengahan, mencuri level sedang, melakukan gangguan sosial dan asusila, dan yang paling sering terjadi adalah bullying terhadap teman tapi pada tahap yang ringan seperti mengolok- olokan teman yang menyebabkan sisw tersebut menjadi malu dan tidak percaya diri.

Akhir-akhir ini kasus bullying menjadi pembicaraan dan perdebatan hangat disetiap kalangan terutama dikalangan pendidikan, banyaknya bulliying yang terjadi dilembaga pendidikan membuat lembaga pendidikan menjadi sorotan tajam oleh berbagai pihak apalagi oleh pengamat pendidikan diindonesia. Maraknya bulliying menjadi sebuah keresahan dan kecemasan bagi masyarakat atau orangtua karena dengan banyaknya kasus tersebut menjadikan mereka khawatir terhadap anak anaknya jika nanti akan dianiaya oleh teman temannya disekolah, hal hal yang seperti ini cukup meresahkan dunia pendidikan saat ini.

Coloroso (2003:12) mendefinisikan Bullying adalah tindakan intimidasi yang dilakukan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Bullying dapat ditujukan dalam beragam bentuk. Di sekolah, lebih dikenal dengan istilah “digertak”, “digencet”, dan lainlain. Para ahli menyatakan bahwa school bullying mungkin merupakan bentuk agresifitas antar siswa yang memiliki dampak paling negative bagi korbannya. Hal ini disebabkan adanya ketidak seimbangan kekuasaan dimana pelaku berasal dari kalangan siswa atau siswi yang lebih merasa senior melakukan tindakan tertentu kepada korban, yaitu siswa atau siswi yang lebih junior dan mereka merasa tidak berdaya karena tidak dapat melakukan perlawanan ( Januarko: 2013)

Menurut Januarko dalam artikelnya mengatakan bahwa “maraknya aksi tawuran dan kekerasan atau bullying yang dilakukan oleh siswa di sekolah yang semakin banyak menghiasi deretan berita di halaman media cetak maupun elektronik menjadi bukti telah tercerabutnya nilai- nilai kemanusiaan. Tentunya kasus-kasus kekerasan tersebut tidak saja mencoreng citra pendidikan yang selama ini dipercaya oleh banyak kalangan sebagai sebuah tempat di mana proses humanisasi berlangsung, tetapi juga menimbulkan sebuah pertanyaan, bahkan gugatan dari berbagai pihak yang semakin kritis mempertanyakan esensi pendididkan di sekolah dewasa ini (Januarko : 2018).

Wiyani dalam januarko (2012) menyebutkan bahwa “ Penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Semai Jiwa Amini pada 2008 tentang kekerasan bullying di tiga kota besar di Indonesia, yaitu Yogyakarta, Surabaya, dan Jakarta mencatat terjadinya tingkat kekerasan sebesar 67,9 di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 66,1% di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kekerasan yang dilakukan semasa siswa tercatat sebesar 41,2% untuk tingkat SMP dan 43,7% untuk tingkat SMA dengan kategori tertinggi kekerasan psikologis berupa pengucilan. Peringkat kedua ditempati kekerasan verbal (mengejek) dan terakhir kekerasan fisik (memukul). Gambaran kekerasan di SMP di tiga kota besar, yaitu Yogyakarta: 77,5% (mengakui ada kekerasan) dan 22,5% (mengakui tidak ada kekerasan); Surabaya: 59,8%(ada kekerasan); Jakarta: 61,1%(ada kekerasan).

3. Kasus Berat

Kasus berat yang sering ditemui disekolah tidak hanya disekolah umum, akan tetapi juga disekolah-sekolah agama, baik ditingkat sekolah menengah pertama ataupun sekolah menegah atas adalah gangguan emosional berat, kecanduan alkohol dan narkotika, pelaku kriminalitas, siswa hamil, percobaan bunuh diri, perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api.

Kasus berat yang terjadi disekolah biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor
diantaranya faktor dari dalam diri siswa, faktor pergaulan yang sudah mulai tidak terkendali, kemudian juga faktor lingkungan tempat tinggal, dan yang paling besar sekali adalah faktor teknologi penggunaan hp android.

C. Manajemen Penanganan Kasus disekolah

Di setiap tingkatan sekolah sangat sering ditemukan siswa yang yang bermasalah atau berkasus, yang ditunjukan oleh berbagai sebab dan gejalah serta penyimpangan prilaku sosial. Mulai dari kasus kategori ringan sampai dengan kasus kategori berat. Upaya untuk menangani dan menyelesaikan siswa yang bermasalah atau berkasus, khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin dan tata tertib sekolah dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan diantaranya pendekatan disiplin dan pendekatan bimbingan konseling, pendekatan bimbingan konseling biasanya dilakukan oleh tenaga konselor yang ada disekolah itu sendiri, dengan menggunakan pendekatan pendekatan khusus dan diruangan khusus yang penulis sebut dengan bengkel moral siswa. terencana, dilakukan oleh semua tenaga pendidikan, karena sesuai dengan tugas guru disekolah adalah sebagai tenaga pendidik yang fungsinya tidak hanya mengajar akan tetapi juga mendidik dan membimbing siswa tidak saja dalam pembelajaran akan tetapi juga diluar pembelajaran dikelas. Penaganan kasus yang baik dilakukan harus secara berjenjang sesuai dengan alur yang dapat ditetapkan sekolah.

Sebagai gambaran alur penangan kasus atau masalah masalah yang terjadi disekolah baik yang bersifat ringan, sedang, maupun berat secara berjenjang, mulai dari jenjang terendah sampai kepada jenjang tertinggi yaitu kepal sekolah, yang dapat penulis gambarkan sebagai berikut:

Diagram Penangan Kasus di Sekolah
  1. Penanganan Kasus Oleh Guru Mata Pelajaran

Kasus yang bersifat ringan yang dilakukan oleh siswa, seperti pelanggaran disiplin disekolah. Pertama sekali harus ditangani oleh guru mata pelajaran, apalagi kasus tersebut terjadi didalam kelas dengan guru mata pelajaran, pendekatan dapat dilakukan dengan cara memberikan teguran, nasehat, serta pembinaan pembinaan keagamaan dan dituliskan didalam jurnal pengamatan siswa. Kasus kasus ringan yang seperti ini biasanya seperti pelanggaran disiplin saat pembelajaran, kurang menghargai guru, tidak mengerjakan PR, malas membuat tugas dan sebagainya. Jika kasus tersebut tidak berulang lagi dan terjadi perubahan maka kasus tersebut tidak diteruskan kepada wali kelas. Tetapi jika tidak ada perubahan maka kasus tersebut diteruskan kepada wali kelas.

2. Penanganan Kasus Oleh Wali Kelas

Seperti yang diterangkan diatas, wali kelas melakukan penangan kasus, setelah mendapatkan laporan secara resmi dari guru mata pelajaran, dengan kasus yang sama yang telah diberikan  pembinaan terlebih dahulu oleh guru mata pelajaran tetapi tidak ada perubahan, maka kasus tersebut berpindah tangan kepada wali kelas, pemindahan kasus dari guru mata pelajaran kepada wali kelas harus disertai bukti pelaporan yang ditanda tangani oleh guru mata pelajaran sebagai pelapor, dan wali kelas sebagai penerima laporan.

Wali kelas dan guru Bimbingan konseling harus melakukan analisis ketidakdisiplinan siswa, hal ini diharapkan agar dapat mengetahui informasi tentang sikap perbedaan siswa, sehingga wali kelas dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melakukan pembinaan atau kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam kelas yang diasuhnya terutama tentang pelanggaran pelanggaran disiplin dan tata tertib sekolah.

3. Penanganan Kasus Oleh Guru BK

Guru bimbingan konseling (BK) melakukan pembinaan dengan kasus yang sama, setelah dilaporkan secara resmi oleh wali kelas siswa yang bersangkutan, setelah wali kelas melakukan berbagai usaha penanganan kasusnya, namun tidak ada perubahan. Maka wali kelas wajib melaporkan kepada Guru Bimbingan Konseling (BK) yang dibuktikan dengan buku pelaporan ditanda tangani oleh Wali Kelas sebagai pelapor, dan guru Bimbingan Konseling sebagai penerima laporan.

Menurut Ahamad Sudrajat (2008) mengatakan bahwa “Pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling yang dilakukan disekolah sangat berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera terhadap siswa, penanganan siswa bermasalah atau berkasus melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada “

Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.

4. Penanganan Kasus Oleh Wakil Kepala Sekolah

Wakil kepala sekolah yang biasanya banyak berperan dalam penanganan kasus siswa adalah wakil kesiswaan walaupun tanpa dipungkiri terkadang juga dilakukan oleh wakil kurikulum atau wakil kepala sekolah lainnya dengan catatan ada pemindahan kasus dari guru bimbingan konseling terhadap wakil kepala sekolah. Yang dibuktikan dengan buku pelaporan kasus yang ditanda tangani oleh guru bimbingan konseling sebagai pelapor, dan wakil kepala sekolah sebagai penerima laporan.

5. Penanganan Kasus Oleh Kepala Sekolah

Penanganan kasus oleh kepala sekolah biasanya kasus kasus yang berkategori berat, walaupun kasus tersebut pada awalnya bersifat ringan, namun  sudah ditangani secara berjenjang oleh guru mata pelajaran, wali kelas, guru bimbingan konseling, wakil  kepala sekolah tetapi tidak terjadi perubahan maka kasus tersebut dilaporkan kepada kepala sekolah. Yang dibuktikan dengan bukti pengalihan penangan kasus dari wakil kepala sekolah kepada kepala sekolah dan ditangani secara resmi. Ketika itu terjadi walupun kasus pada awalnya ringan namun sampai kepada kepala sekolah maka kasus tersebut berubah kategorinya kepada kasus berat.

Penangan kasus oleh kepala sekolah biasanya dilakukan dengan berbagai cara selagi dalam koridor mendidik, membina siswa kearah yang lebih baik. Cara terakhir yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah dengan melakukan pemanggilan terhadap orangtua siswa yang bermasalah.

  • KESIMPULAN

Manajemen penanganan kasus disekolah harus dilakukan secara terencana, dilakukan oleh semua tenaga pendidikan, karena sesuai dengan tugas guru disekolah adalah sebagai tenaga pendidik yang fungsinya tidak hanya mengajar akan tetapi juga mendidik dan membimbing siswa tidak saja dalam pembelajaran akan tetapi juga diluar pembelajaran dikelas. Penaganan kasus yang baik dilakukan harus secara berjenjang sesuai dengan alur yang dapat ditetapkan sekolah. Penanganan kasus terhadap siswa bermasalah melalui pendekatan disiplin

merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah, aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai macam penyimpangan perilaku siswa. Walaupun demikian, yang harus diingat adalah sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Sekolah sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana sekolah berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. Salah satunya dengan melakukan manajemen kasus dan penangan kasus secara berjenjang yang telah penulis paparkan diatas.

DAFTAR RUJUKAN

Ahmad Janan Asifudin, 2016, Manajemen Pendidikan untuk Pondok Pesantren Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Volume 1, Nomor 2

Ahmad Khori, 2016, Manajemen Strategik dan Mutu Pendidikan Islam Manageria: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Volume I, Nomor Ahmad Khori

Colle Said, Paradigma Pendidikan Dalam Perspektif Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5, Hunafa: Jurnal Studia IslamikaVol. 13, No. 1

Eri Susan, 2019, Manajemen Sumber Daya Manusia. ADAARA, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam.Volume. 9, No. 2

Guntur Cahyono,2017, Pendidikan Karakter Perspektif Al Qur’an Dan Hadits, AL- ASTAR, Jurnal Ahwal al-Syahsiyah dan Tarbiyah STAI Mempawah, Volume V, Nomor 1

Lailatul Insyiroh, Studi Tentang Penanganan Siswa Yang Terlambat Tiba Di Sekolah Oleh Guru Bk Sma Negeri 1 Gresik. Pengembangan Buku Panduan Pemilihan Karier Berbasis Teori Trait and Factor Untuk Siswa Kelas X SMAN 1 Gresik

R. Fitria Rachmawati, 2011, Sistem Pengambilan Keputusan Terhadap Ketidakdisiplinan Siswa SMP Di SMP Yza 1 Kota Bogor Jurnal Ilmiah Teknologi dan Informasi Volume 2 Wahyu Januarko, 2016, Studi Tentang Penanganan Korban Bullying Pada Siswa Smp Sekecamatan Trawas “A Study About Bullying Victim Handling To The Junior High School Student’s In Trawas”, Jurnal BK UNESA. Volume 04 Nomor 02

Jujur itu Indah — Dunia Pendidikan

Jujur itu Indah Jujur adalah salah satu sikap yang terpuji, orang yang memiliki sikap jujur pasti akan di senangi banyak orang, karena sikap jujur merupakan sikap yang tak pernah ada rasa keinginan untuk berbuat curang, berbohong, menipu dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya, sikap jujur juga harus di tanamkan pada anak sejak dini. Dalam agama islam, jujur […]

melalui Jujur itu Indah — Dunia Pendidikan

Waspada, Bahaya Mengintai dari Perusahaan Gadai! — Setiap Sen

Kepraktisan untuk mendapatkan dana segar menjadikan layanan gadai sebagai solusi kala ada kebutuhan mendadak. Apalagi jenis aset yang dijaminkan sangat variatif. Dari mulai sertifikat tanah, surat kendaraan, hingga pirati elektronik lainnya. Ini sebabnya layanan gadai makin diminati masyarakat. Bagaimana tidak, dengan cara gadai seseorang akan mendapatkan dana secara cepat. Tak sampai lima belas menit prosesnya. […]

melalui Waspada, Bahaya Mengintai dari Perusahaan Gadai! — Setiap Sen

Pengaruh Negatif Susu AA dan DHA

Keluarga Sehat Keluarga Bahagia

sumber: Harian MEDIA INDONESIA, Jum’at 22 September 2000

Tingkat konsumsi Docosahexanoic Acid (DHA) yang berlebihan akan membahayakan metabolisme tubuh. Sebab tubuh terpaksa dibebani pekerjaan yang lebih berat untuk mengeluarkan asam lemak esensial
tersebut. Spesialis penyakit anak Dr. Utami Roesli MBA, mengutip hasil penelitian yang dilaksanakan di Australia, Amerika Serikat maupun Eropa, bahwa di tiga kawasan negara maju ini, belum dihasilkan efektifitas dari penambahan DHA dalam produk susu maupun makanan bayi dan anak anak termasuk untuk ibu hamil. “Jadi belum ada anjuran untuk menambahkan unsur asam linoleat dan asam linolenat itu ke dalam susu”, ujarnya kepada Media, kemarin di Jakarta.

Lebih jauh ditegaskan, seperti juga lemak susu sapi, maka asupan DHA tersebut bukan merupakan ikatan rantai panjang, sehingga masih sulit diserap oleh pencernaan bayi. Terlebih lagi, katanya, karena susu
yang akan dikonsumsi ini harus dibuat dengan menggunakan air panas hingga mengalami proses pemanasan. Akibatnya, aktifitas enzim desaturase dan elongase yang memfasilitasi…

Lihat pos aslinya 378 kata lagi

%d blogger menyukai ini: